Blog EntryKisah Tumbuhan Bunga Mencari jati diriMay 27, '09 2:45 AM
for everyone
Bismillahirahmanirahiim

Kisah Tumbuhan Bunga Mencari jati diri


Waktu dalam hitungan detik yang berlalu begitu cepatnya. Tanpa disadari

sebuah tumbuhan bunga mulai mekar bersemi. Kecenderungan tumbuhan bunga

menjatuhkan pilihan warna kelopaknya dari awal hingga akhir sungguh adalah

sebuah ujian dalam menyempurnakan keutuhan dirinya. Menjaga manisnya madu

sari hati tetap pada kesuciannya. Menjaga asa agar senantiasa Mekar di

setiap pergantian musimnya. Menyelaraskan keimanan dan keistiqomahan agar

senantiasa tumbuh sesuai fitrah Illahi. Menjaga tegak tumbuh tangkainya

kokoh menghadapi angin dan kumbang penggoda. Menjaga putik dan benang sari

agar senantiasa satu dalam ikatan kelopak-NYA. Perjuangan yang sungguh

tidaklah mudah tapi harus dilalui dengan keikhlasan dan kesabaran yang tiada

berbatas. Hari berganti hari, bulan berlari menuju bulan berikutnya bergulir

dalam hitungan tahun. kini bunga semakin tegas warna kelopaknya menandakan

kematangannya. Dan bunga paham bahwa sesungguhnya kehadirannya di bumi

adalah untuk mengingatkan penghuni bumi akan kebesaran Sang Pencipta.

Mengajak seluruh semesta untuk tunduk dan taat hanya kepada Allah Sang

Pencipta Tunggal. Wahai sahabat simaklah kisah tumbuhan bunga dalam

menemukan jati dirinya sebagai ciptaan Allah yang diciptakan dengan sebuah

tujuan mulia, bukti kesempuranaan Cinta dari Sang Pencipta.

Tumbuhan bunga pada awalnya tidak percaya bahwa dirinya adalah sebuah

tumbuhan yang mempunyai bunga indah sampai suatu hari di ujung tangkainya

muncul benda aneh tertutup kelopak daun. Hey kamu daun bagian dariku kan?

Lalu mengapa tumbuhmu tidak seperti biasanya?

"Hei apa yang kalian lindungi itu, jangan sembunyikan padaku, aku ingin

melihatnya."

Salah satu daun penjaga yang tak lain adalah bakal kelopak mayang menjawab,

"Wahai tumbuhan bunga tidakkah engkau tahu bahwa ini adalah mahkotamu yang

harus engkau lindungi dari serangan kumbang yang tidak berhak.

Tumbuhan bunga bertanya, "Ah aku tak pantas mempunyai mahkota, bukankah aku

bukan tumbuhan bunga? Aku adalah tumbuhan jantan yang berteman

kumbang-kumbang. Aku tidak perlu khawatir kumbang melukaiku kan?

Kumbang-kumbang itu tak mungkin mengkhianatiku, mereka semua adalah sahabat

kehidupanku"

Lalu kelopak mayang menjawab, "Wahai tumbuhan bunga sesungguhnya dirimu

bukan tidak berbunga tapi belum tiba saatmu menghadirkan keindahan bungamu.

Bersabarlah waktu itu akan tiba seiring mekarnya bakal bunga yang kami

lindungi ini. Dan ingat kau sudah harus bisa membatasi diri dari

sahabat-sahabat kumbangmu. Yakinlah bahwa pada fitrahnya kumbang itu akan

tertarik pada tumbuhan bunga sepertimu, karena itu berhati-hatilah dan jaga

baik-baik dirimu. Dan jika tiba waktunya bunga itu mekar, tegaslah pada

setiap kumbang yang datang tanpa kesungguhan. Sebab kumbang yang dikirimkan

Sang Pencipta untukmu kelak akan kau lihat padanya tanda-tanda dari

kesungguhan kesucian niatnya."

Tumbuhan bunga akhirnya sadar bahwa ia tercipta bukan dengan sia-sia.

Kesadaran diri bahwa sesungguhnya hidup ini adalah sebuah amanah dari Sang

Pencipta. Bahwa sesungguhnya apa yang dijalani dalam kehidupannya kelak akan

dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Waktu beranjak dari kesadarannya kini. Perubahan yang jelas pun terlihat

dalam setiap pemikiran dan tindakannya. Tumbuhan bunga berusaha untuk selalu

memberi arti dalam setiap nafas kehidupannya. Kesenangan persahabatan dengan

kumbang-kumbang pun tak lagi dirasakan sebuah kebahagiaan. Sebab ada

kenikmatan baru dari Sang Pencipta, sebab ada kebahagiaan yang bersemi

selalu ketika ia berjalan pada koridor Nya.

Mekarnya tumbuhan bunga yang disertai keharumannya tidak lantas membuat

tumbuhan bunga bangga dengan apa yang dimilikinya. bukankah banyak tumbuhan

juga berbunga sama seperti dirinya, bahkan teramat banyak yang melebihi

keelokan dan keharuman bunganya? Bahkan tumbuhan bunga tidak merasa

mempunyai kelebihan dari mereka selain keyakinannya pada Cinta Sang Pencipta

pada dirinya. Maka segala kelebihan yang ada pada dirinya tidak serta merta

membuat dirinya lupa pada dirinya yang dulu sebelum menjadi tumbuhan bunga.

Tidak melupakan asal dan proses penciptaannya, tidak dan sekali-kali tidak.

Ia sadar benar bahwa apa yang telah Sang Pencipta karuniakan kepada dirinya

adalah sebuah amanah yang harus senantiasa di jaga dengan keimanan dan

keistiqomahan pada Cinta Nya, Cinta Sang Pencipta.


Note :

Setiap diri adalah unik, Allah tidak menciptakan seorangpun hambanya yang

sama persis dengan hamba lainnya. Baik dalam hal fisik maupun sifat dan

karakternya. Setiap pribadi mempunyai kekurangan dan kelebihan

masing-masing. tidak ada manusia yang hanya mempunyai sisi kekurangan saja

tanpa di sertai kelebihan. Begitu juga setiap manusia semua mempunyai

kekurangan di balik segala kelebihannya. Namun dihadapan Sang pencipta

segala kelebihan dan kekurangan itu menjadi tiada berguna. Manakala tidak

ada keimanan pada NYA. Dan semua manusia yang beriman kepada NYA adalah sama

di hadapan Sang Pencipta, tidak ada yang berbeda. Kecuali satu yang

membedakannya yaitu ketaqwaannya pada Sang Pencipta. Derajat ketaqwaan tidak

serta merta diperoleh tanpa ujian dari NYA. Semuanya melewati cobaan dan

ujian panjang dan berat dari Nya. Hingga akan terlihat mana yang benar-benar

emas dan mana yang benar-benar intan permata.


Jakarta, 26 Mei 2009
By. Aisyah


Dedicated to all my sister at ROHIS SMAN 77 and STMIK Jayakarta, luv U all coz Allah

Add a Comment